Dialah Imam Zainal Abidin Ibn Al Husain RA, merupakan putra dari Husain bin Ali bin Abi Thallib, cicit dari rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sebenarnya Imam Zainal Abidin bernama asli Ali bin Husain, tetapi karena ia memiliki kepribadian yang mulia dan ketakwaannya, maka ia dijuluki Zainal Abidin. Selain itu, ia juga mendapat julukan "as-Sajjad" karena sujudnya yang sangat lama. Dan karena jiwanya yang bersih, dijuluki pula dengan “Az-Zakiy.” Imam Zainal Abidin dilahirkan di Madinah. Sejak lahir Imam Zainal Abidin tidak pernah melihat wajah ibunya, karena ibunya telah menghadap ke Rabbnya tak lama setelah melahirkan Imam Zainal Abidin. Sejak saat itu, Imam Zainal Abidin dirawat oleh seorang budak wanita. 

Menginjak usia remaja, Ali bin Husein sangat tekun dan antusias menuntut ilmu. Madrasah pertama beliau adalah rumahnya sendiri, rumah yang paling mulia dan gurunya pun ayahandanya sendiri. Madrasah yang kedua adalah Masjid Nabawi asy-Syarif yang ramai dikunjungi sisa-sisa shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi pertama tabi’in.

Mereka begitu bersemangat mendidik para putra shahabat utama. Mengajari Kitabullah, fiqih, serta riwayat hadis-hadis nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan target dan obyek yang ditujunya. Juga menceritakan tentang perjalanan dan perjuangan Rasulullah, tentang syair-syair Arab dan keindahannya. Mengisi hati mereka dengan kecintaan, takut, dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan akhirnya mereka berhasil menjadi ulama yang mau beramal dan menjadi pembimbing bagi orang-orang yang mendapat petunjuk.

Hanya saja hati Ali bin Husein tidaklah terkait kepada sesuatu melebihi keterpautan hatinya terhadap Kitabullah. Tak ada hal lain yang lebih dikagumi sekaligus ditakuti daripada kalimat-kalimat, janji dan ancaman yang ada di dalamnya.

Jika ayat yang beliau baca menyebut-nyebut tentang surga, serasa terbang kerinduan beliau terhadapnya. Bila membaca ayat-ayat tentang neraka, gentar gemetar seakan melihat dan merasakan panas api di tubuhnya.

Memasuki usia dewasa, dia tumbuh menjadi seorang pemuda yang kaya ilmu dan ketaqwaan. Penduduk Madinah mendapatinya sebagai pemuda Bani Hasyim yang patut diteladani ibadah dan ketaqwaannya, terhormat, luas pengetahuan, dan ilmunya, mencapai puncak ibadah dan takwanya. Sampai-sampai setiap kali selesai wudhu terlihat wajahnya pucat pasi seperti orang ketakutan. Setelah itu ia berdiri tegak dengan tubuh gemetaran.

"Hai Imam, mengapa tubuhmu menjadi gemetaran seperti itu?" anya sahabatnya yang melihat keadaan imam Zainal Abidin.

"Tidakkah kau mengerti? Di hadapan siapakah nanti aku akan berdiri, dan siapakah yang akan kuajak bicara nanti?" jawab Imam.

Demikianlah Imam Zainal Abidin mengartikan wudhu yang kemudian mengerjakan shalat menghadap tuhannya. 

Pernah, ketika ia sedang mengerjakan shalat, di rumahnya terjadi kebakaran. Melihat api telah membakar rumah Imam Zainal Abidin, para tetangga berteriak-teriak kebingungan.

"Hai, cicit Rasulullah! Api telah membakar rumahmu, keluarlah!" teriak slah satu tetangganya.

Meskipun telah mendengar teriakan-teriakan tetangganya, Imam Zainal Abidin tidak mengangkat kepala dari sujudnya. Namun, atas kuasa Allah api itu tidak sampai membakar tubuhnya. 

Setelah Imam Zainal Abidin usai mengerjakan shalat, orang-orang berkerumun mendekatinya. 

"Api telah membakar rumah Anda, tetapi mengapa Anda tidak berusaha menyelamatkan diri dan beranjak dari tempat shalat?" tanya salah seorang di antara mereka.

"api yang membakar rumahku dan barangkali nanti akan membakar tubuhku masih belum seberapa. Saat itu aku justru berkonsentrasi memikirkan api yang lebih besar dan lebih dahsyat," jawab Imam Zainal Abidin.

"Api apakah itu?" jawab tetangganya serentak.

"Api itu adalah api neraka," jawab Imam Zainal Abidin seraya meninggalkan tempat itu. 

Disadur dari Kumpulan Dongeng Anak-Anak Muslim