Kisah Islami

Kisah Pemuda Ashabul Kahfi: Keagungan Allah, Kehebatan Ali, Kecerdasan Tamlikha

Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat Al Kahfi. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya. Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.

Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-‘Adzim; jilid:3 ; hal.67-71). Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua) yang ditafsir secara jelas jalan ceritanya. Penulis kitab Fadha’ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Riwayat tersebut berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi: “(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (QS al-Kahfi:10)

Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:
Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: “Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi.”

“Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan,” sahut Khalifah Umar.
“Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?” Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. “Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?”

Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: “Bagi Umar, jika ia menjawab ‘tidak tahu’ atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!”
Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: “Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!”
Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: “Kalian tunggu sebentar!”

Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: “Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!”
Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: “Mengapa?”

Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: “Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!”
Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: “Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!”
Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!”

Kisah Binasanya Kaum Rass

Di dalam Alquran, kita telah mengetahui sudah begitu banyak diceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah. Dan hal ini dikarenakan mereka telah melakukan banyak penyimpangan dan yang lebih fatalnya mereka sering mengingkari dan menentang utusan Allah yang diturunkan kepada kaum mereka. Salah satu kaum yang dibinasakan ini adalah kaum Rass.

Al-Quran menyebutkan kaum Rass sebanyak dua kali dalam firman Allah surah Al-Furqan, 25:38 dan surah Qaf, 50:12.

“Dan (kami binasakan) kaum ‘Aad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut. Dan kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqaan[25]: 38-39)

Sebenarnya Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama Al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Konon, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Saleh. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib. Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (adapula yang menyebut bin Shofwan). Kaum Rass menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan karena mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam sumur sehingga mereka dibinasakan Allah

Abu Bakr Muhammad bin al-Hasan an Naqqasy menyebutkan bahwasanya penduduk Rass memiliki sebuah sumur yang mereka gunakan untuk minum dan mereka gunakan untuk mengairi pertanian mereka. Mereka memiliki seorang raja yang memiliki perangai yang baik. Ketika ia meninggal, maka mereka mengalami kesedihan yang mendalam. Selang beberapa hari, datanglah syaitan kepada mereka dalam wujud raja mereka, seraya berkata: “Aku belum mati, akan tetapi aku tersembunyi dari hadapan kalian agar aku dapat melihat apa yang kalian lakukan.” Maka mereka pun merasa sangat gembira. Syaitan tersebut memerintahkan kepada mereka agar membuat tabir pemisah antara dirinya dan diri mereka seraya mengabarkan bahwa ia tidak akan mati selama-lamanya. Mayoritas dari mereka mempercayainya sehingga mereka pun terpedaya dan menyembahnya.

Allah Maha Tepati Janji Tetapi Banyak Orang Yang Tidak Mengetahui

Siapa yg percaya isi Al-Quran dan janji-Nya jauh lebih baik dr janji-janji para manusia ?
Ketika seorang anak mendengarkan janji yang diucapkan oleh kedua orang tuanya, misalnya sebuah janji bahwa dia akan diajak ke tempat bermain kesukaannya sebagai hiburan akhir pekan, maka ia pasti akan sangat senang dan tak akan sempat meragukan apa yang dijanjikan oleh kedua orang tuanya itu. Dia merasa senang karena memang tempat yang dijanjikan tersebut banyak menyimpan bayangan kegembiraan, dan dia juga tak akan sampai meragukan janji itu karena memang ia yakin tak akan dibohongi oleh orang yang tentu menginginkan kebaikan untuknya. Mungkin demikianlah karakter perasaan kita saat mendengarkan janji dari orang-orang yang kita percayai. Kita akan memegang janji mereka, padahal bisa jadi janji tersebut akan tertunda atau bahkan tidak jadi terwujud sesuai rencana karena terhalang suatu keadaan.

Dari karakter perasaan yang kita miliki semacam itu, ketika kita dianugerahi kemudahan untuk juga dapat menyikapi janji-janji Allah SWT sebagaimana kita menyikapi janji orang-orang yang kita percayai, maka niscaya kita pun akan mudah menghindari kekecewaan dalam urusan hidup kita, karena memang janji Allah SWT pasti akan ditepati tanpa ada yang bisa menghalanginya, berbeda dengan janji manusia yang kadang tertunda atau bahkan batal karena memang manusia tak sepenuhnya mampu menguasai keadaan dan kehidupannya. Memang, sebagian janji Allah SWT ada yang ‘tampaknya’ tertunda atau tak terwujud, namun itupun adalah karena kita melihatnya dari sudut pandang perkara dunia, padahal janji Allah SWT itu justru lebih menekankan tentang perkara yang lebih kekal, sehingga ketika seseorang mempercayai janji-Nya namun di dunia ini dia tampak hidup sengsara, maka bukan berarti Allah SWT tidak memenuhi janji-Nya.

Dan mungkin cara pandang terhadap janji Allah SWT inilah yang menyebabkan seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya justru berani menghanyutkan anak tersebut ke dalam aliran sungai, yang dia sendiri pun mungkin juga tidak tahu persis akibat apa yang akan menimpa anaknya dari perbuatannya itu. Dia memang bukan bermaksud mencelakakan anaknya sendiri, melainkan justru dengan cara itulah dia bermaksud melindunginya dari kejahatan yang dilakukan oleh seorang raja yang dzalim. Namun entah apa yang difikirkannya ketika itu hingga dia bisa berbuat demikian. Tapi memang demikianlah kekuatan sebuah kepercayaan akan janji Allah SWT. Tentu kita mengenal sosok ibunda Nabi Musa AS tersebut. Dialah sosok yang disebutkan di dalam al-Qur’an sebagai orang beriman yang menerima janji Allah SWT hingga menyaksikan janji tersebut benar-benar terwujud.

Kisah Maryam Ibunda Nabi Isa Alaihissalam


Kita akan menemukan kisah Maryam ibunda nabi Isa AS dalam surah Ali Imran, yaitu surah ke tiga dalam Al Quran. Surah Ali Imran termasuk surah Al QUran yang panjang. Mengapa Allah menjadikan nama Ali Imran menjadi sebuah nama surah dalam Al Quran, tentunya mempunyai alasan.

Ali Imran merupakan nama seorang laki-laki yang keluarganya telah terpilih menjadi keluarga yang diberkati oleh Allah. Allah memilih keluarga Ali Imran adalah karena dari pasangan suami istri ini lahir salah seorang wanita yang mulia dalam sejarah yaitu Maryam.

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (3:33)

Semasa Maryam masih di dalam kandungan, istri Imran yang bernama Hannah bernazar akan “menyerahkan” anaknya itu kepada Allah sebagai Pemelihara agar kelak menjadi hamba yang soleh yang selalu berkhidmat di Baitul Maqdis (Yerussalem). Hal ini tertulis di dalam ayat ke-35 yang terjemahannya berbunyi:

(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (3:35)