ANAKSALEH.com

Kisah Islami

Kisah Nabi Musa AS Mencari Ilmu

Pada suatu ketika Nabi Musa as berkhutbah di tengah-tengah Bani Israil. Dalam khutbahnya tersebut, ada salah seorang yang bertanya kepadany, “Siapakah manusia yang paling dalam ilmunya?” Nabi Musa menjawab, “Sayalah orang yang paling dalam ilmunya.” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyalahkannya karena tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya.  Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi wahyu kepada Nabi Musa, “Bahwa salah seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang tinggal di tempat bertemunya dua lautan lebih dalam ilmunya daripada kamu.” Musa berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana cara aku menemuinya?” 
Allah memberikan petunjuk, “Bawalah ikan dalam sebuah keranjang. Apabila engkau kehilangan ikan itu, maka orang itu berada di sana.”

Musa pun berangkat bersama muridnya Yusya’ bin Nun dengan membawa ikan dalam keranjang, sehingga ketika mereka berdua berada di sebuah batu besar, keduanya merebahkan kepala dan tidur (di atas batu itu), lalu ikan itu lepas dari keranjang dan mengambil jalannya ke laut dan cara perginya membuat Musa dan muridnya merasa aneh.

Kisah Neraka Jahannam - Rasul Menangis Saat Jibril Ungkap Penghuni Neraka ke-7

Air di Neraka jahannam adalah hamim (air panas yang menggelegak), anginnya di Neraka Jahannam adalah samum (angin yang amat panas), sedang naungannya adalah yahmum (naungan berupa potongan-potongan asap hitam yang sangat panas

Ketika  itu Jibril datang kepada Rasulullah pada waktu yang tak biasa. Namun, Jibril terlihat berbeda. Raut wajah yang tak biasa.

Maka Rasulullah SAW bertanya:

"Mengapa aku melihat kau berubah muka (wajah)?" Jawabnya: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya".

Lalu Rasullulah Saw bersabda:

"Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam".

Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahanam, maka dinyalakan selama 1000 tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan 1000 tahun sehingga putih, kemudian 1000 tahun sehingga hitam, lalu menjadi hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya.

Perintah Mendirikan Ka'bah

Nabi Ibrahim hidup jauh terpisah dengan Ismail, putranya, dalam waktu yang cukup lama. Kemudian datanglah kepadanya perintah yang sangat mulia. Allah telah memerintahkannya untuk membangun Ka'bah, agar menjadi rumah pertama yang dibangun untuk beribadah kepada Allah.

Ibrahim kemudian mencari Ismail. Akhirnya beliau dapat bertemu dengan Ismail ketika Ismail sedang meruncingkan anak panahnya dekat sumur zamzam. Mereka kemudian berpelukan melepas kerinduan dan kegembiraannya.

Kemudian Nabi Ibrahim memberitahukan kepada Ismail, bahwa Allah telah memerintahkan kepadanya agar membangun sebuah rumah untuk beribadah kepada-Nya di tempat ini. Lalu beliau menunjukkan tempatnya, yaitu di atas bukit yang rendah.

"Kerjakan apa yang diperintahkan Tuhan kepada Ayah, dan aku akan membantu di dalam pekerjaan mulia ini," kata Ismail.

Maka mulailah Ibrahim melaksanakan pekerjaannya dibantu Ismail.

Kisah Nabi Syu'aib A.S

Syu'aib adalah putra asjur bin Madyan (keturunan Madyan). Kaumnya disebut kaum Madyan. Syu'aib masih keturunan Nabi Ibrahim A.S. Sebenarnya Madyan mempunyai agama peninggalan ajaran Nabi Ibrahim A.S. Namun seiring berjalannya waktu kaum madyan semakin jauh dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Semakin lama kemungkaran telah membudaya dalam masyarakat, sehingga di sana-sini terjadi kekacauan. Tidak ada ketenangan dalam hidup. Yang ada hanya kejahatan dimana-mana. Hukum rimba diterapkan sehingga kaum yang lemah semakin tertindas oleh kaum yang kuat.

Daratan Madyam memang subur. Tanah pertanian di saat itu merupakan harapan hidup rakyat di sana. Hidup orang Madyan memang makmur, berkat kesuburan tanah garapan mereka. Gandum dan buah-buahan dapat menghidupi kaum Madyan. Sesungguhnya mereka mendapatkan warisan ajaran dari Nabi Ibrahim. Namun ternyata semakin lama semakin luntur. ereka semakin jauh dari agama, tetapi semakin dekat dengan maksiat. Dalam berdagang mereka suka mengurangi timbangan, memalsukan takaran dan kecurangan-kecurangan lainnya.

Karena sedemikian parah, maka Allah mengutus Nabi Syu'aib untuk menjadi nabi. Nabi Syu'aib menyeru kepada mereka agar meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat itu. Tapi mereka tidak menghiraukan sedikit pun seruan yang baik itu. Dalam Al-Quran mengatakan,

".... Syu'aib berkata,"Wahai kaumku, sembahlah Allah, bagimu tidak ada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu satu tanda nyata (Syu'aib) dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang, takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaiki. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar beriman." (QS. Al A'raf: 85)