Masjid Indah Dunia

Senin, 12 Mei 2014

Khalifah Umar bin Khattab dan Kota Elia

Di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, kebebasan menjalankan ibadah dihormati. Toleransi antarumat beragama begitu harmonis. Setiap pemeluk agama bisa menjalankan ibadahnya sesuai agama dan keyakinannya secara tenang dan aman.


Tak heran, jika kepala rahib yang ada di kota Elia amat berterima kasih kepada tentara Islam yang telah membebaskan mereka dari penindasan Bizantium. Secara Khusus, Khalifah Umar menulis surat jaminan keamanan bagi seluruh penduduk kota Elia. Berikut bunyi surat jaminan Khalifah Umar seperti dikutip dari Ath-Thabari, III/609.

‘’Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jaminan keamanan ini diberikan oleh hamba Allah, pemimpin umat Islam, Umar bin Khattab kepada penduduk Elia. Umar menjamin bagi setiap jiwa, harta, gereja, salib, kaum lemah, kaum merdeka, dan semua agama yang ada.’’


Kekuatan Air Mata

Dibandingkan dengan hewan, hampir semua yang keluar dari tubuh manusia tidak bisa dimanfaatkan, bahkan terkesan kotor. Sebab semuanya terkonotasi sebagai "limbah" atau sisa-sisa metabolisme tubuh. Walau demikian, ada satu "benda" yang keluar dari tubuh manusia yang tidak dianggap sebagai kotoran. Orang-orang tidak merasa jijik  melihatnya. Apakah itu? Dialah air mata. Jarang orang merasa jijik dengan air mata. Ketika melihatnya, respons yang timbul malah sebaliknya, jiwa kita bisa terguncang tatkala bulir-bulir air mata, terlebih dari pelupuk mata orang yang kita cintai berjatuhan. Sebaliknya, orang-orang yang merasa (maaf) "jijik" dengan air mata atau tidak mengeluarkan air mata ketika kondisi "mengharuskannya" menangis, dianggap sebagai orang yang keras hatinya

Kecerdasan Emosional

IQ dipuja secara berlebihan, meski fakta menunjukkan bahwa, kecerdasan emosional lebih berperan di masa depan. Bisakah kecerdasan emosi ini dikembangkan pada si kecil? Bagaimana caranya?
Besar kecil angka tes IQ, hingga kini masih jadi sumber kebanggaan, kekecewaan, harapan juga keputus-asaan orang tua. IQ dipandang sebagai penentu kondisi keberhasilan masa depan. Kalau si kecil ber IQ tinggi, masa depan nampak cerah dan menyenangkan. Namun, jika tidak sebaliknyalah yang terjadi. Padahal anggapan bahwa IQ merupakan penentu masa depan, sudah harus dibuang. Ada banyak perkecualian dalam pernyataan tersebut. Kemampuan yang diukur dalam test IQ di sekolah-sekolah kita sebenarnya hanya menyumbangkan sebagian kecil (sekitar 20%), dari faktor penentu kesuksesan hidup. Dalam sebuah studi atas sekelompok mahasiswa universitas Harvard, terbukti bahwa para mahasiswa yang cemerlang di bangku kuliah ternyata tak terlampau sukses dibandingkan rekan-rekannya yang IQ-nya lebih rendah, baik dalam penghasilan, posisi kerja, juga produktivitas. Mereka pun tidak termasuk kelompok yang paling mengalami kepuasan hidup, yang berbahagia dalam hubungan persahabatan, keluarga dan asmara.


Keajaiban Tulang Sulbi (Tulang Ekor) Manusia

Ekor tidak hanya dimiliki oleh bangsa binatang saja, tetapi manusia juga memilikinya, lebih tepatnya manusia memiliki tulang sulbi atau tulang ekor. Tulang sulbi atau dengan bahasa Inggrisnya adalah Coccyx ini adalah bagian tulang dari tubuh manusia. Terletak pada bagian terbawah dari tulang belakang.

Tulang sulbi ini adalah tulang yang pertama kali ketika manusia diciptakan oleh Allah. Dari tulang inilah nantinya manusia dibangunkan pada hari akhir. Hebatnya lagi tulang sulbi ini tak akan hancur dimakan tanah.
Tulang sulbi sering disebutkan dalam hadits yaitu, dari Abu Hurairah Nabi bersabda, “Sesungguhnya bagian tubuh manusia akan rusak, kecuali “tulang sulbi”, dari tulang ini pertama kali manusia diciptakan, dan dari tulang ini manusia dibangunkan dari kematian di hari akhir” (HR. Bukhari, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah)


KASIH SAYANG TULUS SEORANG BUNDA

Kasih sayang Ibu
Saat melahirkan sang bayi, ibu bahkan harus mempertaruhkan nyawanya. Tidak sedikit ibu yang meninggal saat melahirkan. Kemudian dimulailah masa-masa radikal dalam kehidupan anak. Saat anak hanya mampu berkomunikasi dengan tangisan, ocehan-ocehan yang mungkin hanya ibu yang memahaminya, gerakan tangan, tendangan kaki, dan genggaman jari. Begitu lambatnya pertumbuhan kita namun begitu sabarnya ibu mengurus kita. Makan melalui mulut, berbicara, berjalan, semuanya harus dipelajari. Bukankah ibu yang mempunyai peran terbesar dalam tahapan itu?


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...