Masjid Indah Dunia

Sabtu, 21 Maret 2015

Kisah Nabi Ilyas Dan Bani Israel

Nabi Ilyas alaihis salam adalah keturunan Nabi Harun Alaihis salam. Alalh mengutus Nabi Ilyas untuk menjadi pembimbing kaum yang berada di tepi timur sungai Yordan. Nabi Ilyas diutus untuk memperingatkan bangsa Israel. Sejak dahulu hingga sekarang, bangsa Israel memang susah diatur. Oleh karena itu, sepanjang sejarah, banyak diutus para nabi kepada bangsa ini. Namun, bila nabinya telah meninggal dunia, perlahan-lahan ajaran yang ditinggalkan terkikis habis oleh kemaksiatan.
Di saat itu, ketika Nabi Ilyas diturunkan, orang-orang Bani Israel terkenal dengan kebiasaan menyembah berhala. Berhala itu bernama Ba'al. Karena penyembahan Ba'al di tengah kota, maka kota itu dinamakan Ba'labak.

Nabi Ilyas menyampaikan dakwahnya kepada dakwahnya kepada Bani Israel. Ia tak bosan-bosannya menyeru, memberi peringatan kepada mereka, namun mereka sama sekali tak menghiraukan. Mereka meremehkan kedatangan Ilyas, manakala memberi peringatan. Bahkan tak segan menghina dan mengejek Ilyas yang dianggapnya bersikap aneh itu. Meskipun demikian, Ilyas dengan senang hati ikhlas tak bosan-bosannya mencegah keburukan dan mengajak kepada kebaikan.

Al Quran menceritakan:
Dan sesungguhnya Ilyas benar termasuk salah satu Rasul-rasul. (Ingatlaj) ketika ia berkata kepada
kaumnya "Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kalian menyembah Ba'al dan kamu meninggalkan sebaik-baik pencipta, yaitu Allah, Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?" Mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret ke neraka, kecuali hamba-hamba Allah yang diampuni (dosa-dosanya. Dan kami abadikan bagi Ilyas (pujian yang baik), dikalangan orang-orang pada jaman sesudahnya, (yakni) kesejahteraan dilimpahkan kepadanya. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (QS Ash-Shaffat: 123-132).

Senin, 16 Maret 2015

Hidup Sehat Cara Rasulullah SAW

Kononselama hidupnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam hanya sakit dua kali. Yaitu setelah menerima wahyu pertama, ketika itu beliau mengalami ketakutan yang sangat sehingga menimbulkan demam hebat. Yang satunya lagi menjelang beliau wafat. Saat itu beliau mengalami sakit yang sangat parah hingga akhirnya meninggal. Ada pula yang menyebutkan bahwa Rasul mengalami sakit lebih dari dua kali.

Berapa pun jumlahnya, dua, tiga, atau empat kali, memperjelas gambaran bahwa beliau memiliki fisik sehat dan daya tahan luar biasa. padahal kondisi alam Jazirah Arabia waktu itu terbilang keras, tandus dan kurang bersahabat. Siapa pun yang mampu bertahan puluhan tahun dalam kondisi tersebut, plus berpuluh kali peperangan yang dijalaninya, pastilah memiliki daya tahan tubuh yang hebat.

Mengapa Rasulullah jarang sakit? Pertanyaan itu menarik untuk dikemukakan. Secara lahiriah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam jarang sakit karena mampu mencegah hal-hal yang berpotensi mendatangkan penyakit. Dengan kata lain, beliau sangat menekankan aspek pencegahan daripada pengobatan. Jika kita telaah Aquran dan Sunnah, maka kita akan menemukan sekian banyak petunjuk yang mengarah pada upaya pencegahan. Hal ini mengindikasikan betapa rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sangat peduli terhadap kesehatan. Dalam Shahih Bukhari saja tak kurang dari 80 hadits yang membicarakan masalah ini. Belum lagi yang tersebar luas dalam kitab Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, Ahmad dan sebagainya.

Senin, 12 Mei 2014

Khalifah Umar bin Khattab dan Kota Elia

Di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, kebebasan menjalankan ibadah dihormati. Toleransi antarumat beragama begitu harmonis. Setiap pemeluk agama bisa menjalankan ibadahnya sesuai agama dan keyakinannya secara tenang dan aman.


Tak heran, jika kepala rahib yang ada di kota Elia amat berterima kasih kepada tentara Islam yang telah membebaskan mereka dari penindasan Bizantium. Secara Khusus, Khalifah Umar menulis surat jaminan keamanan bagi seluruh penduduk kota Elia. Berikut bunyi surat jaminan Khalifah Umar seperti dikutip dari Ath-Thabari, III/609.

‘’Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jaminan keamanan ini diberikan oleh hamba Allah, pemimpin umat Islam, Umar bin Khattab kepada penduduk Elia. Umar menjamin bagi setiap jiwa, harta, gereja, salib, kaum lemah, kaum merdeka, dan semua agama yang ada.’’


Kekuatan Air Mata

Dibandingkan dengan hewan, hampir semua yang keluar dari tubuh manusia tidak bisa dimanfaatkan, bahkan terkesan kotor. Sebab semuanya terkonotasi sebagai "limbah" atau sisa-sisa metabolisme tubuh. Walau demikian, ada satu "benda" yang keluar dari tubuh manusia yang tidak dianggap sebagai kotoran. Orang-orang tidak merasa jijik  melihatnya. Apakah itu? Dialah air mata. Jarang orang merasa jijik dengan air mata. Ketika melihatnya, respons yang timbul malah sebaliknya, jiwa kita bisa terguncang tatkala bulir-bulir air mata, terlebih dari pelupuk mata orang yang kita cintai berjatuhan. Sebaliknya, orang-orang yang merasa (maaf) "jijik" dengan air mata atau tidak mengeluarkan air mata ketika kondisi "mengharuskannya" menangis, dianggap sebagai orang yang keras hatinya

Kecerdasan Emosional

IQ dipuja secara berlebihan, meski fakta menunjukkan bahwa, kecerdasan emosional lebih berperan di masa depan. Bisakah kecerdasan emosi ini dikembangkan pada si kecil? Bagaimana caranya?
Besar kecil angka tes IQ, hingga kini masih jadi sumber kebanggaan, kekecewaan, harapan juga keputus-asaan orang tua. IQ dipandang sebagai penentu kondisi keberhasilan masa depan. Kalau si kecil ber IQ tinggi, masa depan nampak cerah dan menyenangkan. Namun, jika tidak sebaliknyalah yang terjadi. Padahal anggapan bahwa IQ merupakan penentu masa depan, sudah harus dibuang. Ada banyak perkecualian dalam pernyataan tersebut. Kemampuan yang diukur dalam test IQ di sekolah-sekolah kita sebenarnya hanya menyumbangkan sebagian kecil (sekitar 20%), dari faktor penentu kesuksesan hidup. Dalam sebuah studi atas sekelompok mahasiswa universitas Harvard, terbukti bahwa para mahasiswa yang cemerlang di bangku kuliah ternyata tak terlampau sukses dibandingkan rekan-rekannya yang IQ-nya lebih rendah, baik dalam penghasilan, posisi kerja, juga produktivitas. Mereka pun tidak termasuk kelompok yang paling mengalami kepuasan hidup, yang berbahagia dalam hubungan persahabatan, keluarga dan asmara.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Gallery Alasko

Video Dakwah

Jadwal Sholat